Berpegangan Pada Ritme Baru, Saat Ini Tidak Produktif Tidak Apa-Apa

Kita memasuki bulan kedua paska virus Covid-19 ini menjangkiti Indonesia awal Maret lalu. Atau bulan 4 kalau dari kemunculan di negara asalnya pada Desember 2019 lalu di Wuhan, Cina. Kini virus Corona dinyatakan sebagai wabah pandemi yang menjangkiti seluruh dunia. Dan kita dihadapkan pada wajah kehidupan baru yang tidak akan pernah sama, dan hampir pasti serba baru.

Tagar #dirumahaja bergema di Indonesia, dan tagar #stayathome bergema di seluruh penjuru dunia dan keduanya teramplifikasi melalu media sosial. Dan hal yang tidak pernah terjadi di muka bumi pun terjadi. Semua orang di seluruh penjuru dunia memilih berdiam di rumah saja dan menghindari bepergian kalau tidak perlu sekali. Kalaupun perlu kita akan menjumpai orang-orang saling memakai masker dan beberapa bahkan sarung tangan di tempat umum. Bagaikan dalam film-film genre post-apocalyptic.

Nyaris semua industri dihajar babak belur. Etos Work From Home yang digadang-gadang memutus rantai penyebaran virus Corona tak anyal turut mengganggu rantai ekonomi juga. Nyaris semua kena imbasnya termasuk industri musik yang masih bergantung pada panggung-panggung mingguan yang komunal. Social distancing kemudian menjadi physical distancing dan kini PSBB (Pembatasaan Sosial Berskala Besar) bagaikan mimpi buruk yang tidak pernah terbayangkan. Terlebih para musisi beserta tim produksinya yang masih bertumpu pada acara panggung-panggung mingguan. Sehingga kini berbagai jenis gigs/festival musik yang mengharuskan berkumpul-kumpul dibatalkan dan diundur entah sampai kapan.

Namun bukan industri kreatif namanya kalau tidak bisa beradaptasi dan memutar otak dengan cepat. Hanya dalam hitungan minggu berbagai inovasi dan konten untuk menghadirkan hiburan dari rumah ke rumah segera bermunculan. Berbagai brand dan pihak sponsor yang biasa mendukung acara musik lantas berlomba-lomba membuat aktivasi daring. Sehingga para musisi yang biasa merajai panggung dibanjiri pinangan untuk aktifasi ini-itu. Dan tidak sampai sebulan era pandemi ini para musisi yang melakukan aktifasi daring bermunculan di media sosial.

Kini kita dihadapkan pada wajah kehidupan baru yang tidak akan pernah sama, dan hampir pasti serba baru.

Siapa sangka ritual komunal berkerumun, berpeluh keringat, goyang bersama menyanyikan lagu kesukaan kala menonton acara musik kini bisa digantikan dari rumah. Meskipun minus semua unsur-unsur menyenangkan dari sebuah gigs itu. Kita kini bisa menyimak sang idola tampil dari layar hitam gawai kita langsung dari rumah/studio pribadinya. Dan lucunya bila sebelumnya banyak anjuran untuk membatasi screentime gawai karena tidak baik untuk kesehatan mental, justru kini layar hitam itu menjadi teman terbaik manusia dalam menyingsing pandemi ini.

Para insan kreatif, terutama musisi berlomba-lomba membuat konten dan melayarkan kegiatan mereka melalui layar gawai. Baik itu hal-hal musikal ataupun hanya sekedar mengobrol. Dari bedah lagu, tutorial, latihan, membuat video untuk direspon, podcast, penggalangan dana dan masih banyak lagi. Sebisa mungkin menjadi produktif adalah kuncinya. Dan semua dilakuan via media sosial.

Tapi berhati-hatilah bila produktifitas ini kemudian membebani kita para pekerja kreatif termasuk musisi, dan terutama para pekerja musik yang biasa bergerak di balik layar. Boro-boro produktif, penghasilan bulan ini dan beberapa bulan ke depan saja tidak menentu. Entah bagaimana bisa selamat dari bulan-bulan tanpa penghasilan pasti yang masih bergantung pada panggung-panggung mingguan itu.

Perlu dingat sudah menjadi rahasia umum bila media sosial adalah bagaikan pisau yang bermata dua. Selain kini menjadi pusat informasi dan juga hiburan utama, media sosial sekaligus juga sumber stres dan depresi bagi manusia-manusia jaman sekarang yang kesehatan mentalnya begitu rentan di era industri 4.0 ini. Ditambah melalui layar hitam itu kini di era pandemi ini kita harus terbiasa melihat orang menjadi sangat produktif dari rumahnya. Dari buku, film, album-album musik yang mereka konsumsi, juga kebiasaan postif seperti olahraga, berkebun, memasak menu-menu yang Instagram-able yang bermunculan setiap detik di layar gawai kita. “Walaupun pandemi, dan di rumah saja kita tetap harus produktif gaes!”. Kalimat tersebut seolah menjadi pesan terbaru kehidupan ideal di era pandemi ini.

Perlu diingat bahwa kita sebagai manusia pada dasarnya lebih suka berbagi momen terbaik kita ketimbang kekurangannya. Itu hal yang sangat lazim ditemui di ruang tamu kebanyakan rumah kita bukan? Hal buruk cenderung kurang perlu untuk dibagi. Dan kecendrungan itu seringkali tanpa sadar membuat kita jadi membanding-bandingkan dan mengukur diri dengan keidealan orang lain melalui layar gawai mereka. Lalu merasa diri ini nol besar, bukan siapa-siapa.

Bila sebelumnya aDA anjuran membatasi screen time di gawai, justru kini layar hitamnya menjadi teman baik manusia dalam menyingsing pandemi ini

Padahal selain berusaha selamat dari virus yang menyerang paru-paru ini yang harus dilakukan adalah tetap waras secara mental. Tidak perlu produktif seperti mereka-mereka yang terlihat positif dan produktif mengisi keseharian melalui layar gawai itu. Perlu diingat, manusia itu dilahirkan berbeda. Dan punya reaksi berbeda-beda ketika dihadapkan pada suatu masalah. Tidak semua orang bisa setenang itu.

Mari kita lebih realistis dengan kondisi sekarang. Terlebih bila kita ada di posisi yang kurang beruntung belum memiliki simpanan/rencana darurat untuk beberapa bulan ke depan. Akan lebih baik kita fokus kepada kehidupan sekarang. Terutama untuk para pekerja musik yang boro-boro berfikir untuk produktif. Ini saatnya kita berbaiklah pada diri kita sendiri. Tak apa untuk menjalankan ritme baru dari rumah, beradaptasi sambil berkontemplasi tentang pandemi ini. Sambil tentunya tetap putar otak dan mencari celah untuk tetap hidup. Untuk melakukan apa-apa tetap lebih mudah bila kita dalam kondisi waras bukan?

Pandemi ini lebih besar dari semuanya, gaes. Lebih besar dari sekedar mengisi kegiatan #dirumahaja dengan produktifitas tinggi lalu memamerkannya di media sosial. Pandemi terakhir terjadi di 2009 yaitu flu babi (H1N1). Dan WHO bahkan menyebut kalau Corona-19 ini 10 kali lipat lebih berbahaya dari flu babi. Beberapa pihak memperkirakan pandemi ini akan berakhir pada akhir Mei atau awal juni, bahkan ada juga yang memperkirakan sampai awal tahun 2021. Belum lagi jika bicara efek samping yang akan menghantui yaitu resensi ekonomi.

Saya pribadi lebih tertantang untuk bisa selamat dari pandemi ini, dan ini bersiap menghadapi kehidupan baru seperti apa di depan semua ini. Dalam kondisi yang katanya planet bumi ini sedang me-reset ulang, start dari awal lagi, refresh atau apapun bahasanya. Yang pasti bumi yang sedang menikmati waktunya sendiri terbebas dari rutinitas manusia yang biasa mencekik planet yang mereka tinggali ini. Langit kota besar menjadi lebih cerah karena nihil polusi kendaraan dan pabrik industri. Kondisi laut lebih tenang, getaran planet bumi berkurang, serta bumi menjadi lebih sunyi. Semua terjadi karena nyaris seluruh penduduknya berhenti beraktifas di luar rumah.

Pandemi ini lebih besar dari sekedar mengisi kegiatan #dirumahaja dengan produktifitas tinggi lalu memamerkannya di media sosial

Namun saya yakin bahwa kita manusia adalah tetap bagian dari bumi ini. Walaupun  kita sudah cenderung sangat abai padanya. Maka itu sangat penting untuk tetap waras, membiasakan diri pada ritme baru dan yang terpenting jangan mengabaikan hal-hal yang berhubungan dengan emosi negatif kita. Karena emosi negatif adalah alarm tubuh. Jangan sampai kita jadi denial dan abai terhadap kondisi mental kita. “It’s ok to not be not ok“. Karena sekali lagi untuk melakukan apa-apa tetap lebih mudah bila kita dalam kondisi waras bukan?

Saat ini selain menghadapi musuh bersama yang tidak tampak yaitu virus Covid-19, musuh kita bersama lainnya yaitu kewarasan mental dalam menghadapi pandemi ini plus kehidupan media sosial. Maka itu berpeganglah pada ritme baru kita. Dan jika kita tidak produktif di era pandemi ini adalah tidak apa-apa.

*Dimuat di Popahriini.com

____

Lucky Bastard! Jurnal Penyintas Depresi/Bipolar Yang Beruntung

 

Ant Lucky Bastard1

 

1. Pengantar

Tahun 2019 ini usia saya memasuki kepala 4. Dan anehnya saya tidak mengalamai krisis paruh baya menjelang kepala 4 alias umur 40 ini. Betulkah? Karena saya tidak menemukan kerisauan-kerisauan seperti yang disebutkan di banyak artikel tentang hal tersebut yang pernah saya baca.

Tapi yang pasti saya merasa kalau ada yang aneh dan berbeda dengan diri ini. Dan selalu kesulitan untuk menjelaskan rasa ini dan bagaimana bereaksi terhadapnya. Saya sering terlalu percaya diri untuk melakukan sesuatu dan sering pula sangat tidak percaya diri. Bahkan mudah putus asa dan tidak meneruskannya. Bagaikan dua sisi yang bertolak belakang. Begitu konsisten, tapi bisa juga putus asa dan menghilang begitu saja. Baca lebih lanjut

Funk. MSG Untuk Musik Indonesia? (Bagian Terakhir)

DCDC Funk MSG 3

Era 2000an –  2018.

Peringatan sebelum membaca tulisan penutup ini: saya harus melonggarkan definisi funk yang akan dibicarakan. Pada dasarnya adalah ketukan patah-patah, drum yang bikin badan bergoyang, isian bass “nakal” kadang dimainkan dengan teknik slap, serta permainan gitar berdecit tajam. Lingkupnya adalah musik populer Indonesia. Mari.

Sesuai sejarahnya karena lahir, dimainkan dan dihidupkan oleh musisi kulit hitam, maka musik funk juga akan selamanya menempel erat dengan akar musik kulit hitam itu sendiri seperti jazz, blues dan R&B. Itu takdir yang terjadi dengan funk di belahan dunia manapun.

Begitu pula di Indonesia jika bicara funk era 2000an hingga kini. Makanya banyak musisi dengan sentuhan funk lumrah ditemui dalam acara festival jazz internasional. Lucunya meskipun begitu di Indonesia sepertinya masih tabu menyelenggarakan acara musik spesifik bertema funk, karena hingga kini -koreksi bila saya salah- belum pernah ada. Baca lebih lanjut

Perdana Co-Working Space

Beberapa hari ini perdana kerja di salah satu co-working space di Bandung. Yang dirasa adalah semua asik sendiri dengan laptop dan earphone-nya, beberapa ada sih yang asik rame-rame karena mereka emang janjian kerja di situ.

Saya pun secara reflek langsung buka laptop, pasang earphone dan kerja. Tanpa sadar 2 jam berlalu dan ketika saya buka earphone dan memalingkan pandangan saya sempat lupa ada di mana. Dan betapa saya tidak banyak memperhatikan sekitar saya. Persis seperti dunia Matrix. Tenggelam di layar laptop dan hilang sejenak keberadaan diri ini.

Penyebabnya adalah karena ruangannya cukup formal ala kantor. Di gedung berlantai 4 dan ber AC. Sehingga kalau kerja tanpa earphone akan terasa kesunyian yang mengganggu. Atau bahkan kebisingan orang asing mengobrol di sekitar yang langsung terasa dominan di ruangan yang sepi senyap itu.

Ternyata jauh lebih nyaman kerja di ruangan terbuka. Apalagi yang dekat taman-taman gitu. Terutama kalau udaranya sejuk. Mendengarkan suara kendaraan lewat, orang-orang beraktifitas macam yang lalu lalang, serta suara-suara lingkungan dan alam lainnya serta bebauan segar dari udara terbuka. Yaa itung-itung penyeimbang dengan layar laptop dan internet yang fana itu.

5 Album Lokal Penting Yang Kini Berusia Dua Dekade

Album Lokal 20 tahun

Akhir 90an adalah awalan penting bagi anak muda di Indonesia. Komputer rumah mulai diakrabi, internet mulai mudah diakses, dan masuknya MTV ke Indonesia. Selain itu berbagai subkultur anak muda juga masuk melalui musik dan diterima di sini. Saat itu semua “pertama kali” terjadi. Ledakan musisi retro yang merilis album berkiblat ke era 60/70an, termasuk rock alternatif, video klip musik lokal membanjiri MTV Indonesia yang membuka pintunya lebar-lebar untuk musisi lokal, gigs-gigs lokal berupa pensi dan festival musik juga ada dimana-mana dan  label musik juga membuka diri terhadap musik-musik lokal baru. Semua itu menciptakan ekosistem yang sehat sehingga begitu banyak album-album rock menarik di akhir 90an. Ini dia beberapa album penting yang tahun ini berusia dua dekade yang harus kamu simak.

Baca lebih lanjut

12 Fakta Tentang Album Kedua Koil – Megaloblast (2001)

Megaloblast fitur

Koil, band industrial rock asal Bandung akan merayakan 17 tahun album Megaloblast yang merupakan album kedua mereka dengan konser tunggal bertajuk Megaloblood. Megaloblast sendiri adalah album fenomenal Koil yang dirilis tahun 2001 dan berhasil terjual hingga 20.000 kopi pada saat itu. Koil terdiri dari vokalis J.A Verdijantoro (Otong),  gitaris Donnijantoro (Doni), dan drummer Leon Ray Legoh (Leon) serta kini dibantu oleh bassis Adam Fransiskus Xaverius. Band rock yang terkenal dengan aksi menghancurkan gitar dan berkostum panggung gothic ini terakhir merilis album Blacklight Shines On, 2007 lalu dan mendapatkan respon dan popularitas yang luar biasa. Termasuk banyaknya ajakan kolaborasi dengan berbagai musisi pop besar Indonesia. Namun sebelum semua itu Koil pertama mendapatkan sorotan melalui Megaloblast yang dianggap sebagai album dengan sound yang dashyat pada jamannya. Dulu sering disangka direkam dengan alat mahal yang sophisticated tapi siapa sangka ternyata hanya direkam dengan komputer rumah dan soundcard dan software musik seadanya.

Ini dia 12 fakta tentang album kedua Koil, Megaloblast yang dirilis 17 tahun: Baca lebih lanjut

Mendengarkan Kembali Album Koil – Megaloblast Yang Tahun Ini Berusia 17

Koil Megaloblast midres

Saya pertama kali mengenal Koil saat mereka merilis album pertamanya di akhir 90an. Saat itu kasetnya saya beli itu secara acak di toko kaset. Dulu saya banyak menghabiskan waktu bolak-balik ke toko kaset karena penasaran akan musik-musik menarik, terutama rock. Saat itu akhir 90an beragam musik rock barat mulai menarik perhatian saya. Berbagai genre rock hingga metal sempat memenuhi rak kaset di rumah. Tak lama itu geliat rock lokal pun mulai muncul melalui rilisan dalam bentuk kaset di toko-toko kaset, dan segera langsung menarik perhatian saya.

Salah satunya yang tidak bisa dilewatkan adalah ketika menemukan album pertama Koil di rak toko kaset dengan kovernya yang beraura gelap itu di antara kover-kover lain yang cerah berwarna-warni. Album perdana Koil itu berjudul Koil alias self titled dan langsung menjadi favorit saya. Ada lagu “Murka” dengan lirik tentang hiu dan karang laut selatan, lalu ada  lagu “Hujan” yang sentimentil. Serta lagu “Dengekeun Aing” berisi amarah kepada matahari dan meminta bulan untuk datang lagi menggelapkan bumi. Aneh banget. Baca lebih lanjut