Lucky Bastard! Jurnal Penyintas Depresi/Bipolar Yang Beruntung

 

Ant Lucky Bastard1

 

1. Pengantar

Tahun 2019 ini usia saya memasuki kepala 4. Dan anehnya saya tidak mengalamai krisis paruh baya menjelang kepala 4 alias umur 40 ini. Betulkah? Karena saya tidak menemukan kerisauan-kerisauan seperti yang disebutkan di banyak artikel tentang hal tersebut yang pernah saya baca.

Tapi yang pasti saya merasa kalau ada yang aneh dan berbeda dengan diri ini. Dan selalu kesulitan untuk menjelaskan rasa ini dan bagaimana bereaksi terhadapnya. Saya sering terlalu percaya diri untuk melakukan sesuatu dan sering pula sangat tidak percaya diri. Bahkan mudah putus asa dan tidak meneruskannya. Bagaikan dua sisi yang bertolak belakang. Begitu konsisten, tapi bisa juga putus asa dan menghilang begitu saja. Baca lebih lanjut

Funk. MSG Untuk Musik Indonesia? (Bagian Terakhir)

DCDC Funk MSG 3

Era 2000an –  2018.

Peringatan sebelum membaca tulisan penutup ini: saya harus melonggarkan definisi funk yang akan dibicarakan. Pada dasarnya adalah ketukan patah-patah, drum yang bikin badan bergoyang, isian bass “nakal” kadang dimainkan dengan teknik slap, serta permainan gitar berdecit tajam. Lingkupnya adalah musik populer Indonesia. Mari.

Sesuai sejarahnya karena lahir, dimainkan dan dihidupkan oleh musisi kulit hitam, maka musik funk juga akan selamanya menempel erat dengan akar musik kulit hitam itu sendiri seperti jazz, blues dan R&B. Itu takdir yang terjadi dengan funk di belahan dunia manapun.

Begitu pula di Indonesia jika bicara funk era 2000an hingga kini. Makanya banyak musisi dengan sentuhan funk lumrah ditemui dalam acara festival jazz internasional. Lucunya meskipun begitu di Indonesia sepertinya masih tabu menyelenggarakan acara musik spesifik bertema funk, karena hingga kini -koreksi bila saya salah- belum pernah ada. Baca lebih lanjut

Perdana Co-Working Space

Beberapa hari ini perdana kerja di salah satu co-working space di Bandung. Yang dirasa adalah semua asik sendiri dengan laptop dan earphone-nya, beberapa ada sih yang asik rame-rame karena mereka emang janjian kerja di situ.

Saya pun secara reflek langsung buka laptop, pasang earphone dan kerja. Tanpa sadar 2 jam berlalu dan ketika saya buka earphone dan memalingkan pandangan saya sempat lupa ada di mana. Dan betapa saya tidak banyak memperhatikan sekitar saya. Persis seperti dunia Matrix. Tenggelam di layar laptop dan hilang sejenak keberadaan diri ini.

Penyebabnya adalah karena ruangannya cukup formal ala kantor. Di gedung berlantai 4 dan ber AC. Sehingga kalau kerja tanpa earphone akan terasa kesunyian yang mengganggu. Atau bahkan kebisingan orang asing mengobrol di sekitar yang langsung terasa dominan di ruangan yang sepi senyap itu.

Ternyata jauh lebih nyaman kerja di ruangan terbuka. Apalagi yang dekat taman-taman gitu. Terutama kalau udaranya sejuk. Mendengarkan suara kendaraan lewat, orang-orang beraktifitas macam yang lalu lalang, serta suara-suara lingkungan dan alam lainnya serta bebauan segar dari udara terbuka. Yaa itung-itung penyeimbang dengan layar laptop dan internet yang fana itu.

5 Album Lokal Penting Yang Kini Berusia Dua Dekade

Album Lokal 20 tahun

Akhir 90an adalah awalan penting bagi anak muda di Indonesia. Komputer rumah mulai diakrabi, internet mulai mudah diakses, dan masuknya MTV ke Indonesia. Selain itu berbagai subkultur anak muda juga masuk melalui musik dan diterima di sini. Saat itu semua “pertama kali” terjadi. Ledakan musisi retro yang merilis album berkiblat ke era 60/70an, termasuk rock alternatif, video klip musik lokal membanjiri MTV Indonesia yang membuka pintunya lebar-lebar untuk musisi lokal, gigs-gigs lokal berupa pensi dan festival musik juga ada dimana-mana dan  label musik juga membuka diri terhadap musik-musik lokal baru. Semua itu menciptakan ekosistem yang sehat sehingga begitu banyak album-album rock menarik di akhir 90an. Ini dia beberapa album penting yang tahun ini berusia dua dekade yang harus kamu simak.

Baca lebih lanjut