05. Your Parents

Toxic parents: apakah hanya soal sudut pandang dan saya yang terlalu sensitif?

Harus diakui hidup saya tidak terlalu mudah ketika berursan dengan sosok ibu sendiri. Setelah pergulatan batin, berbagai terapi dan sedikit pengobatan, akhirnya setelah 40 tahun kami bisa ngobrol dari hati ke hati (walaupun beliau ke depannya kemudian lupa kalau pernah melakukan itu). Momennya adalah terbuka soal kondisi mental saya dan harus berobat. Pada moment itu akhirnya kami bisa saling memohon maaf dan berterima kasih sekaligus saling ikhlas dengan kondisi masing2.

Baca lebih lanjut

04. Places You Want To Visit

Kemanapun dengan Lucid Dream!

Salah misteri paling menarik adalah: mimpi saat tidur nyenyak. Dan konon kita bisa mengatur dan mengendalikan alam mimpi itu dengan sadar. Atau yang disebut lucid dream, alias si mimpi sadar.

Bila melalui alam mimpi saja kita bisa mengunjungi tempat-tempat aneh, bayangkan kalau kita bisa mengatur dan mengontrolnya.

Baca lebih lanjut

03. A Memory

Tantangan 30 Hari Menulis

Memilih tidak menulis tentang memori kehidupan, melainkan sesuatu yang lebih krusial di era internet dan si layar hitam gadget, yaitu memori/ingatan otak kita. 

Saya tidak terlalu paham seberapa parah kadar memori kepala saya di awalan kepala empat ini. Apakah masih wajar atau tidak. Tapi ketika istri sering ngedumel soal saya pelupa, hal yang tidak mempermudah itu justru menjadi justifikasi kalau saya kayanya memang pelupa. 

Kapan terakhir kali kita mengingat no telepon di luar kepala? Atau kapan kita terakhir kali terpaksa mengingat no telepon, karena sebuah situasi? 

Baca lebih lanjut

02. Things That Makes You Happy

Ini daftar yang tricky buat saya. Sebagai orang yang bermasalah dengan mood, ke-impulsif-an, dan ide-ide di kepala yang sering datang pergi dengan rusuh, trik saya adalah bikin berbagai macam daftar seperti ini. Daftarnya bisa apa pun, yang jelas fungsinya adalah untuk mengurutkan kekusutan di kepala ini. Salah satunya ini. Meskipun seringkali kalau mood lagi kurang oke, tetap saja daftar ini tidak berarti apa-apa. Hanya dibaca dan tidak dipraktekan. Haha. Tapi yaa paling ngga jadi tahu lah. Ini dia:

Baca lebih lanjut

01. Describe Your Personality

Aquarius 10 Februari, golongan darah O dan shio kambing. Buat yang punya pengetahuan lebih banyak tentang tiga hal di atas dan berminat membedah kepribadian saya silahkan.

Tapi, selama 40 tahun lebih sedikit, saya menemukan kalau saya adalah: 

“Multitalenta medioker yang mengalir” 

Sedap bukan? Ada kekerenan sekaligus ke ‘watir’ (prihatin)-an di situ. Berikut akan saya jabarkan. Siap?

Baca lebih lanjut

Berpegangan Pada Ritme Baru, Saat Ini Tidak Produktif Tidak Apa-Apa

Kita memasuki bulan kedua paska virus Covid-19 ini menjangkiti Indonesia awal Maret lalu. Atau bulan 4 kalau dari kemunculan di negara asalnya pada Desember 2019 lalu di Wuhan, Cina. Kini virus Corona dinyatakan sebagai wabah pandemi yang menjangkiti seluruh dunia. Dan kita dihadapkan pada wajah kehidupan baru yang tidak akan pernah sama, dan hampir pasti serba baru.

Tagar #dirumahaja bergema di Indonesia, dan tagar #stayathome bergema di seluruh penjuru dunia dan keduanya teramplifikasi melalu media sosial. Dan hal yang tidak pernah terjadi di muka bumi pun terjadi. Semua orang di seluruh penjuru dunia memilih berdiam di rumah saja dan menghindari bepergian kalau tidak perlu sekali. Kalaupun perlu kita akan menjumpai orang-orang saling memakai masker dan beberapa bahkan sarung tangan di tempat umum. Bagaikan dalam film-film genre post-apocalyptic.

Baca lebih lanjut

Lucky Bastard! Jurnal Penyintas Depresi/Bipolar Yang Beruntung

 

Ant Lucky Bastard1

 

1. Pengantar

Tahun 2019 ini usia saya memasuki kepala 4. Dan anehnya saya tidak mengalamai krisis paruh baya menjelang kepala 4 alias umur 40 ini. Betulkah? Karena saya tidak menemukan kerisauan-kerisauan seperti yang disebutkan di banyak artikel tentang hal tersebut yang pernah saya baca.

Tapi yang pasti saya merasa kalau ada yang aneh dan berbeda dengan diri ini. Dan selalu kesulitan untuk menjelaskan rasa ini dan bagaimana bereaksi terhadapnya. Saya sering terlalu percaya diri untuk melakukan sesuatu dan sering pula sangat tidak percaya diri. Bahkan mudah putus asa dan tidak meneruskannya. Bagaikan dua sisi yang bertolak belakang. Begitu konsisten, tapi bisa juga putus asa dan menghilang begitu saja. Baca lebih lanjut

Funk. MSG Untuk Musik Indonesia? (Bagian Terakhir)

DCDC Funk MSG 3

Era 2000an –  2018.

Peringatan sebelum membaca tulisan penutup ini: saya harus melonggarkan definisi funk yang akan dibicarakan. Pada dasarnya adalah ketukan patah-patah, drum yang bikin badan bergoyang, isian bass “nakal” kadang dimainkan dengan teknik slap, serta permainan gitar berdecit tajam. Lingkupnya adalah musik populer Indonesia. Mari.

Sesuai sejarahnya karena lahir, dimainkan dan dihidupkan oleh musisi kulit hitam, maka musik funk juga akan selamanya menempel erat dengan akar musik kulit hitam itu sendiri seperti jazz, blues dan R&B. Itu takdir yang terjadi dengan funk di belahan dunia manapun.

Begitu pula di Indonesia jika bicara funk era 2000an hingga kini. Makanya banyak musisi dengan sentuhan funk lumrah ditemui dalam acara festival jazz internasional. Lucunya meskipun begitu di Indonesia sepertinya masih tabu menyelenggarakan acara musik spesifik bertema funk, karena hingga kini -koreksi bila saya salah- belum pernah ada. Baca lebih lanjut

Perdana Co-Working Space

Beberapa hari ini perdana kerja di salah satu co-working space di Bandung. Yang dirasa adalah semua asik sendiri dengan laptop dan earphone-nya, beberapa ada sih yang asik rame-rame karena mereka emang janjian kerja di situ.

Saya pun secara reflek langsung buka laptop, pasang earphone dan kerja. Tanpa sadar 2 jam berlalu dan ketika saya buka earphone dan memalingkan pandangan saya sempat lupa ada di mana. Dan betapa saya tidak banyak memperhatikan sekitar saya. Persis seperti dunia Matrix. Tenggelam di layar laptop dan hilang sejenak keberadaan diri ini.

Penyebabnya adalah karena ruangannya cukup formal ala kantor. Di gedung berlantai 4 dan ber AC. Sehingga kalau kerja tanpa earphone akan terasa kesunyian yang mengganggu. Atau bahkan kebisingan orang asing mengobrol di sekitar yang langsung terasa dominan di ruangan yang sepi senyap itu.

Ternyata jauh lebih nyaman kerja di ruangan terbuka. Apalagi yang dekat taman-taman gitu. Terutama kalau udaranya sejuk. Mendengarkan suara kendaraan lewat, orang-orang beraktifitas macam yang lalu lalang, serta suara-suara lingkungan dan alam lainnya serta bebauan segar dari udara terbuka. Yaa itung-itung penyeimbang dengan layar laptop dan internet yang fana itu.