Diproteksi: Masa Depan Suram Buat Instrumentalis Gitar, Bass dan Drum?

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Perdana Co-Working Space

Beberapa hari ini perdana kerja di salah satu co-working space di Bandung. Yang dirasa adalah semua asik sendiri dengan laptop dan earphone-nya, beberapa ada sih yang asik rame-rame karena mereka emang janjian kerja di situ.

Saya pun secara reflek langsung buka laptop, pasang earphone dan kerja. Tanpa sadar 2 jam berlalu dan ketika saya buka earphone dan memalingkan pandangan saya sempat lupa ada di mana. Dan betapa saya tidak banyak memperhatikan sekitar saya. Persis seperti dunia Matrix. Tenggelam di layar laptop dan hilang sejenak keberadaan diri ini.

Penyebabnya adalah karena ruangannya cukup formal ala kantor. Di gedung berlantai 4 dan ber AC. Sehingga kalau kerja tanpa earphone akan terasa kesunyian yang mengganggu. Atau bahkan kebisingan orang asing mengobrol di sekitar yang langsung terasa dominan di ruangan yang sepi senyap itu.

Ternyata jauh lebih nyaman kerja di ruangan terbuka. Apalagi yang dekat taman-taman gitu. Terutama kalau udaranya sejuk. Mendengarkan suara kendaraan lewat, orang-orang beraktifitas macam yang lalu lalang, serta suara-suara lingkungan dan alam lainnya serta bebauan segar dari udara terbuka. Yaa itung-itung penyeimbang dengan layar laptop dan internet yang fana itu.

5 Album Lokal Penting Yang Kini Berusia Dua Dekade

Album Lokal 20 tahun

Akhir 90an adalah awalan penting bagi anak muda di Indonesia. Komputer rumah mulai diakrabi, internet mulai mudah diakses, dan masuknya MTV ke Indonesia. Selain itu berbagai subkultur anak muda juga masuk melalui musik dan diterima di sini. Saat itu semua “pertama kali” terjadi. Ledakan musisi retro yang merilis album berkiblat ke era 60/70an, termasuk rock alternatif, video klip musik lokal membanjiri MTV Indonesia yang membuka pintunya lebar-lebar untuk musisi lokal, gigs-gigs lokal berupa pensi dan festival musik juga ada dimana-mana dan  label musik juga membuka diri terhadap musik-musik lokal baru. Semua itu menciptakan ekosistem yang sehat sehingga begitu banyak album-album rock menarik di akhir 90an. Ini dia beberapa album penting yang tahun ini berusia dua dekade yang harus kamu simak.

Baca lebih lanjut

12 Fakta Tentang Album Kedua Koil – Megaloblast (2001)

Megaloblast fitur

Koil, band industrial rock asal Bandung akan merayakan 17 tahun album Megaloblast yang merupakan album kedua mereka dengan konser tunggal bertajuk Megaloblood. Megaloblast sendiri adalah album fenomenal Koil yang dirilis tahun 2001 dan berhasil terjual hingga 20.000 kopi pada saat itu. Koil terdiri dari vokalis J.A Verdijantoro (Otong),  gitaris Donnijantoro (Doni), dan drummer Leon Ray Legoh (Leon) serta kini dibantu oleh bassis Adam Fransiskus Xaverius. Band rock yang terkenal dengan aksi menghancurkan gitar dan berkostum panggung gothic ini terakhir merilis album Blacklight Shines On, 2007 lalu dan mendapatkan respon dan popularitas yang luar biasa. Termasuk banyaknya ajakan kolaborasi dengan berbagai musisi pop besar Indonesia. Namun sebelum semua itu Koil pertama mendapatkan sorotan melalui Megaloblast yang dianggap sebagai album dengan sound yang dashyat pada jamannya. Dulu sering disangka direkam dengan alat mahal yang sophisticated tapi siapa sangka ternyata hanya direkam dengan komputer rumah dan soundcard dan software musik seadanya.

Ini dia 12 fakta tentang album kedua Koil, Megaloblast yang dirilis 17 tahun: Baca lebih lanjut

Mendengarkan Kembali Album Koil – Megaloblast Yang Tahun Ini Berusia 17

Koil Megaloblast midres

Saya pertama kali mengenal Koil saat mereka merilis album pertamanya di akhir 90an. Saat itu kasetnya saya beli itu secara acak di toko kaset. Dulu saya banyak menghabiskan waktu bolak-balik ke toko kaset karena penasaran akan musik-musik menarik, terutama rock. Saat itu akhir 90an beragam musik rock barat mulai menarik perhatian saya. Berbagai genre rock hingga metal sempat memenuhi rak kaset di rumah. Tak lama itu geliat rock lokal pun mulai muncul melalui rilisan dalam bentuk kaset di toko-toko kaset, dan segera langsung menarik perhatian saya.

Salah satunya yang tidak bisa dilewatkan adalah ketika menemukan album pertama Koil di rak toko kaset dengan kovernya yang beraura gelap itu di antara kover-kover lain yang cerah berwarna-warni. Album perdana Koil itu berjudul Koil alias self titled dan langsung menjadi favorit saya. Ada lagu “Murka” dengan lirik tentang hiu dan karang laut selatan, lalu ada  lagu “Hujan” yang sentimentil. Serta lagu “Dengekeun Aing” berisi amarah kepada matahari dan meminta bulan untuk datang lagi menggelapkan bumi. Aneh banget. Baca lebih lanjut